Selasa, 09 Februari 2016

Entahlah ...

Entah ini ingin kau sebut cinta, atau masih kau pertanyakan atau apalah sekiranya tepat, silakan saja. Beberapa kali sudah sumur air mata ini sering terkuras karenanya, aku juga tidak punya nama sekiranya yang cocok untuk ku alamatkan pada hati yang kerap bergetar, pada gaduh yang menggantung dijantung saat wanita cantik muslimah melintas dihadapanmu. Berharap penuh. Aku tak ingin seangkuh itu lagi. Menenggelamkanmu bulat-bulat kedalam bola mata, begitulah caraku menemukan senyumku kembali.

Sabtu, 19 Desember 2015

Kadang aku mencoba untuk bangkit,  mengajak hati untuk kembali tersenyum,  menerima setiap sunggingan senyum.  Aku mencoba untuk membuka diri,  melepas kalut yang menetpa hati dari sejak dulu.  Terkadang aku dengan baiknya, mengatakan aku mencintai merindui dan ingin memiliki dengan sepenuhnya.  Membawanya bersama kemana aku pergi, menjadikannya ada dalam setiap sudut hati.  Menajdikannya tempat kembali saat hati tak mampu membendungi rasa. Menjadikanya tempat bercurah resah dan tentang  kehidupan.  Menjadikannya tempat bersandar kala lelah.

Namun terkadang,  sesuatu seperti setan datang kembali mengusik,  mimpi mimpi yang sedang ku bangun,  tiang tiangnya goyah,  oleng, menggorogoti tiang tiang,  mimpiku goyah.

Setidaknya inilah,  adakah ? Atau ku meminta bisakah kau fahami aku sebagai perempuan  yang sedang  menata hat

Setidaknya inilah,  adakah ? Atau ku meminta bisakah kau fahami aku sebagai perempuan  yang sedang  menata hati untuk siap meraih mimpi,  betul betul mimpi yang menjadi nyata?

Ah sudahlah,  barangkali kamu tidak terlahir untuk mengerti perempuan  yang egois seperti aku.  Atau aku yang tidak cukup ruang untuk mengerti tentang keadaan.  Sudahlah,  barangkali akulah perempuan yang sedang dalam kesasatan,  maaf bukan tentang keyakinan.

Aku ingin seperti mereka dengan mudahnya mencintai tanpa perlu egois dan gengsi.

Sejenak,  di muka jendela lantai dua aku mematung,  memutar kembali ke memori silam. Disaat hati sedang bahagianya

Senin, 05 Oktober 2015

Bulan


net
Hati itu seperti bulan. Satu.  Kalau jatuh, ya jatuh.  Kalau hancur ya hancur. Sebab ia tak ganda,  tak terganti. Sayangnya, aku menyadari ini di penghujung malam. Bulan,  mampukah kamu bersinar lagi?  Ketika aku menemukan mu seperti cermin retak
agh, bulan ...




Kamis, 17 September 2015

Hujan dan Liar


net

Hujan telah turun lagi sayang...

Tiba-tiba hati bergetar
Tiba-tiba teh ini hambar
Dan tiba-tiba... 
Ahg,,, aku tidak suka kau sebut pengumbar
Kau tahu,  karena mu aku jadi pendiam,karena mu aku jadi penyabar
Karena mu, rahim imajinasiku terpaksa mengandung rindu-rindu yang liar... 
dan akhirnya meretas puisi-puisi yang liar... 


Rabu, 16 September 2015

Di Muka Jendela

Secangkir teh dan sepotong puisi hati, mengawali pagi ku yang sedang ranum-ranumnya. Dua potong tahu goreng, semoga menjadi energi untuk bansa cacing dalam perut.

"Selamat pagi, ingin ku titip kasih pada hati yang ingin ku yakini, tapi hati terlanjur jauh pergi,,,  Selamat pagi, puisi pagi untuk rindu yang telah pergi,,, Meneguk secangkir teh, bersama setetes embun yang hampir mengembang,, benar saja kemudian ia mengembang... Clup...."

Disini aku bisa menikmati pagi, sepertipagi dipegunungan. Mula mula cahaya terbit dari bilik pegunungan ranum. Embun-embun mengembang, terkulum sirna.

Selasa, 15 September 2015

Tentang kita

Dalam sepenggal waktu yang sama, hujan ini membawaku pada kau yang katanya sedan meratapi kedinginan. Hujan ini, katamu, membuat lamunan semakin nikmat. Membuat rindukian membara, seperti api yang tersulut bensin. Kau menghirupkan asap dari sebatang rokok kemudian menghembusnya ke udara,hilang bersama hujan.
Ya, kemudian aku mencoba menciptakan dunia fikirku sendiri. Hujan ini terkadang menjadi apa saja, menundukan hati, menadahkan kepala. Ia menjadi apa saja yang kau inginkan. Tapi jujur saja,  aku tidak pernah meminta rindu ini bersarang, membuat ku sulit bernafas. Apakau pernah menghela rindu?

Rabu, 26 Agustus 2015

Perihal Prahara

Kadang aku mencoba untuk bangkit, mengajak hati untuk kembali tersenyum dan menerima setiap sunggingan senyum. Aku mencoba untuk membuka diri, melepas kalut yang menerpa hati dari sejak dulu. Terkadang aku dengan baiknya, mengatakan aku mencintai merindui dan ingin memiliki dengan sepenuhnya. Membawanya bersama kemana aku pergi, menjadikannya ada dalam setiap sudut hati. Menjadikannya tempat kembali saat hati tak mampu membendungi rasa. Menjadikanya tempat bercurah resah dan tentang kehidupan. Menjadikannya tempat bersandar kala lelah.

Kamis, 20 Agustus 2015

Oleh Sebab Hati

Lhoknga
Kedua kaki yang berpijak dipasir putih lembab baru ditinggalkan pasang, bagaimana mungkin aku tidak percaya,  ku rasakan lidah-lidah pasang menciumi mata kaki, bagaimana mungkin aku salah mendengar,  deburan ombak yang menggila, aku tidak mungkin lupa. 

Deburan yang pernah menenggelam perahu cadik hati hingga tercabik. Sudahlah,  kedatanganku kali ini bukan untuk itu. Bukan untuk mengorek-ngorek pilu yang tertimbun pasir. Mereka sudah terkubur dalam, dalam sekali. Damai bersama zaman. 

Sabtu, 27 Juni 2015

En, Es dan Rumi

net
Es

Aku Es, aku memang orang baru dalam kehidupan Rumi. Maafkan aku En, jika kehadiranku mengusik kasihmu dengan Rumi mu, atau Rumi kita. Aku telah mati En, mati tenggelam dalam lautan. Kau tau, bagaimana cara aku  mati. Sadis. Tubuhku terseret-seret, oleh ombak yang bercampur pasir. Aku tak terselamatkan. Aku telah kaku dan dingin.

Rabu, 10 Juni 2015

Surat dari Bekasi


net
Pagi tadi, aku menginjakkan kaki di kampus, sudah lama tidak ku ketahui keadaannya. Sedikit berubah, kebisingan, parkiran yang memenuhi halaman gedung dan sudut-sudut kosong. Kebiasaan lama yang belum menghilang. Aku lansung menuju gedung Fakultas Kesehatan Masyarakat, sambil senyam-senyum pada satu dua orang yang ku kenali.

Setiba didalam gedung, aku menguarkan amplop warna kuning, merobek sisinya, dan beberapa lembaran Ijazah aku tarik. Amplop ini ku terima pagi kemarin, seorang tukang pos mengantarnya ke kantor. Amplop ini sempat menginap di dalam tas ku, semalam. Ketika lembarannya ku tarik, tiba-tiba kertas berbentuk segi tiga jatuh dari dalam amplop.  Kertasnya hanya dilipat dua. Sejenak aku bingung, sebab tidak ada laporan akan ada berkas tambahan, apalagi bentuknya kecil. 

Minggu, 07 Juni 2015

Yang tidak ku tahu rupanya

Yang ku dengar hanya suara yang meraba dalam hening, menghapus duka yang terlahir dari genangan luka. Sekonyong-konyongnya, air mata mengalir dan kau orang asing bak muara. Diam dan menerima tempahan duka yang seolah tak mau habis.

Setelah semuanya terlepas, aku baru sadar. Dan kita mengawali perkenalannya dari nol. Ku tahu tentangmu setidaknya dua hal, negeri asalmu dan nama. Itu saja. Dulu aku sempat menyesal kenapa tidak ku tanyakan semua tentangmu. Aku bodoh, cela ku sambil menokok kepala sendiri.
Malam itu cukup.

Selasa, 31 Maret 2015

Orang Asing

net
Ini tentang orang asing, orang yang belum ku temui di dunia ini. Kali ini aku berbicara nyata, ia ada, hanya saja tidak disisiku. 

Entah bagaimana ceritanya, dalam kesakitan ini aku merasakan keberadaannya yang begitu dekat. Kehadirannya mampu menghapus rasa sakit, menciptakan tawa, dan pada akhirnya aku merinduinya. Bila dia tidak mengirim kabar. Satu hal yang cukup aneh untuk aku akui, satu hal yang butuh alasan banyak untuk dipertanyakan dan aku tidak siap dengan jawabannya.

Rabu, 04 Maret 2015

Takdir Tuhan


net
Wahai kau yang bersembunyi di ujung malam, lama kita tak menyapa, apa kabar malammu? seringkah turun hujan? sehatkah ragamu? tenangkah hatimu? bahagiakah hidupmu? 

Mungkin aku terlalu banyak bertanya, akhir-akhir ini aku memang begitu cerewet. Entahlah... tapi disinilah aku bisa bertanya sebanyak-banyaknya, tanpa dimarahi atau tanpa dianggap ocehan belaka yang pada akhirnya sebuah kebosanan.

Aku tidak pedulikan itu, disini ruang jiwaku, aku bebas merayu siapapun yang ku inginkan walaupun tidak dianggap ada. Karena aku bukan yang terbaik dari yang ada. Aku juga tidak meminta untuk dipercayai. Dia terlahir dari sebuah kerinduan, dan kalian tidak bisa menemukan dia di dunia ini, tidak pula di dunia lain, tidak di dunia maya apalagi di dunia nyata. Dia tak ada.

Selasa, 16 Desember 2014

Di balik jeruji besi

net
Entah apa alasanya, ia melakukan kesalahan. Polisi memvonis ia bersalah. Di balik jeruji besi aku menatapnya diam, tubuh yang selama ini ku dekap kini mendekam disana. Aku menemui petugas agar bisa bertemu dengannya. Lalu petugas memberi ku waktu 5 menit, waktu yang sangat singkat untuk bertemu orang yang selama ini ku cintai. 

Kamis, 27 November 2014

Hujan Akhir November

net
Ditemani secangkir teh, pagi itu aku duduk diteras rumah. Kebiasaan yang sudah lama tidak ku lakukan. Maklum sebagai buruh disebuah perusahaan, aku harus bangun pagi-pagi, pergi pagi dan kembali saat matahari hampir tenggelam. Begitulah kebiasaan yang kini ku geluti. 

Agh sudahlah, cerita sulit hari ini akan menjadi indah saat aku tua nanti. Seperti cerita masa kecil yang menjadi lucu saat ku kenangi kini. 

Mataku jauh memandang ke atas langit, mendung menggantung berat, hujan sepertinya akan turun lebat. Mataku menyusuri hamparan langit hingga mengarah langit kota, letak rumah yang tidak jauh dari kota memudahkan ku untuk melihat tanda hujan disana. Sepertinya sudah hujan di kotaku, sebab langit begitu hitam, awan berterbangan ke arah sana. 

Bila Hati Bicara

net

Bola mataku tak pernah jauh dari apa yang ingin ku lihat, ia sesosok yang mengitari ruang fikir, ruang mata dan ruang hati. Sesosok yang mengubah luka kerinduan menjadi setiap nafas yang dipenuhi oleh keinginan dan harapan. Inilah yang kuyakini sebuah cinta, lewat hati yang berbicara.

Tapi nyatanya sesuatu telah merubah segalanya, sesuatu yang belum mau berpihak untuk ku dari kemarin hingga hari ini. Sesosok yang terus ingin ku lihat kian memudar dalam ruang dan waktu, entah apa alasannya. Bila pun begitu, aku tidak akan memaksa hati lagi untuk mengenang jika itu juga sebuah kelukaan. 

Rabu, 12 November 2014

Kebodohanku



Bukan kehilanganmu yang membuatku sakit, tapi kebodohanku atas rasaku yang telah tertaklukkan pada sebuah kesemuan. Kebodohanku atas hatiku yang telah luruh pada satu cinta yang datang tiba-tiba. Kebodohan fikiranku atas harapan dan asa yang ku gantungkan terlalu hebat dalam seucap janji dikala turun hujan.


Kebodohanku yang tak menyadari atas keberadaan diri jauh dari apa yang diinginkan, dan ketaksanggupanku memenuhi keinginan mungkin adalah alasan yang pantas untuk ku pergi.


Kepedihan yang ada atas keputusan yang telah terpilih biarlah menjadi rahasiaku, kekecewaan itu tidak akan pernah berhenti selama tidak ada pengertian atasnya. Aku faham itu. Aku tidak memaksa kamu berjalan diatas takdirku, kamu memiliki tangan sendiri dan disana kamu bebas mengatur takdirmu.

Sabtu, 15 Maret 2014

Lam saboeh kisah

Panton bak awai thon 2014 dari Syeh Fuady

Fuady Bin Syukri Sulaiman

Assalamualaikom warah matullah
Thon 2014 jinoe ka teuka
Ta lakee doa ka Nibak Allah
Beuglah keuh langkah sabe lam bahagia

Kiban lawet nyoe adoe meutuwah
Katrep hana bhah geutanyoe dua
Canek lam panton hana ngen balah
Lagee kabeh dah panyet tan sua

Lam ujeun malam angen ji meushah
Sang-sang jipeugah saboh calitra
Sampoe lon teukhem dalam peuratah
Wate ta peugah meuturi dua

Tanyoe meu panton peu gadeh sosah
Bak thon ka leupah ceudah lagoina
Teuma oeh lheuh nyan tinggai keuh langkah
Sungue ta peugah di dalam dada

Minggu, 24 November 2013

Kerinduan Jiwa


Sejauh mata memandang kearah lautan biru, sebatas itulah fikiranku berkeliaran tak tertuju. Laut lepas nan dalam, dari kejauhan nampak damai nan tenang.  

Tiba-tiba aku merindukan hal seperti itu, tanpa peduli mungkin saja sesuatu yang menghanyutkan bersembunyi dibawah sana. Jiwaku seperti meronta, memanggil kedamaian agar mendekat kedalam peluk. Dekat dan sedekat-dekatnya.

Ah, aku tertunduk, menyembunyikan wajah malu dalam pangkuan. Kepala ku tempelkan pada dua lutut. Untuk mempereratnya, ku rapatkan dengan kedua tanganku. 

Sabtu, 23 November 2013

Dan Aku Tidak Pernah Lelah,,,

Kelanaku, andai saja engkau berikan sedikit kepercayaan atas setiap langkah yang ku ambil, atas setiap senyum yang ku lemparkan, atas setiap sapaan yang ku terima dan setiap yang ku lakukan. Kelanaku, jika boleh hati yang selalu diselimuti gundah ini bertanya, sepenting apa aku ini untukmu? sejauh mana kehadiranku memberimu kenyamanan dan kedamaian untuk jiwamu? adakah sikapku benar telah menyakitimu, merobek kepercayaanmu. Hingga tak tersisa sedikitpun untuk ku lagi.

Sudikiranya dikau melihat lebih dalam ke dalam hatiku, disana, jika diibaratkan hati ku seperti sebuah ruang, maka dindingnya terbuat dari namamu, langitnya dari wajahmu, lantainya dari senyummu. Jika sudah begitu, jika engkau dapat melihatnya, mungkinkah ada yang bisa singgah lagi disana? aku tak pernah lelah untuk menunggu kedewasaan mu, bahwa inilah aku hidup dengan cintamu.

Aku sedih dalam penantianku menunggu pengertianmu. Sungguh. Bertahun kita telah hidup bersama, masih saja kau pertanyakan kesetiaanku. Kadang aku berfikir, apa selama ini kau yang tidak merasakan kehadiranku? kadang aku juga bingung, mencari-cari dimana letak salahku. Aku berdoa, Tuhan,, turunkan satu cermin ajaib untukku agar aku bisa melihat dimana kesalahanku ketika cermin-cermin disini hanya berdiam diri saja saat aku bertanya.