Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Februari 2013

Heri Fuadi: Tukang becak yang juga pemandu wisata

Gemar menenteng kamus bahasa Inggris sejak SMA membuat ia bisa akrab dengan turis asing. Sembari berprofesi sebagai tukang becak, ia ikut menawarkan jasa menjadi pemandu wisata.
___________________________
BERKAUS hitam dan celana jins hijau lumut, lelaki itu duduk di salah satu kursi di sebuah kafe kawasan Ulee Lheue, Banda Aceh. Ia Heri Fuadi, salah satu tukang becak yang sering membawa turis ke lokasi wisata.
Ditemui The Atjeh Times pada Rabu pekan lalu, Heri menceritakan pengalamannya menjadi pemandu dan berkenalan dengan banyak turis.
Lelaki berambut cepak itu pertama kali kenal dengan turis saat menjadi resepsionis di sebuah hotel di Sabang. Delapan bulan bekerja di situ, ayah dua putri ini mulai mencoba berkomunikasi dengan wisatawan mancanegara.

Sabtu, 05 Mei 2012

Masyarakat Obyek Elite Politik Semata

Net
Matahari baru saja bangkit dari peraduannya, saat itu Mukhtar (40 tahun) mangayun langkah meninggalkan rumah kontrakannya. Laki-laki yang bermukim di Kajhu ini bergegas menuju tempat kerjanya di Desa Peunayong, Banda Aceh. Ia sehari-hari bekerja sebagai tukang jahit di sebuah Tailor. Pergi jam 8.00 pagi dan pulang ketika matahari telah membenamkan cahaya emasnya. Pekerjaan itu telah dilakukannya bertahun-tahun dan tentunya sudah  beberapa kali ikut terlibat dalam  Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) Aceh.

Jumat, 27 Januari 2012

Pelantikan HMP Epid



Di pagi yang baru saja mengantar siang, aroma embunpun sedikitnya masih mengudara. Sepoi-sepoi berkejaran diantara pohon-pohon cemara yang berderet di depan bangunan petak yang mereka sebut ruang, kursi teratur dengan boardwhite yang menggantung di dinding.

Tidak berapa jauh dari ruang-ruang kecil itu, ada sebuah bangunan dengan tingkat tiganya masih dalam proses. Nampak beberapa lelaki yang sedang menyusun bata dan mengaduk semen. Namun di bawah bangunan berpamplet “ Akademik fakultas Kesehatan masyarakat” itu banyak mahasisiwa yang lalu lalang. Sekedar melihat-lihat papan pengumuman juga ada yang masuk kedalam ruang akademik itu.

Kamis, 26 Januari 2012

Si Pembuat Rencong


Lelaki itu (25), tubuhnya tampak bergoyang, terduduk dengan posisi menunduk. Kaki kanan disikukan, sementara sebelahnya lagi dibiarkan menjuntai, menyentuh tanah. Gerakan badannya, sekali kedepan, sesekali ke belakang. Kadang cepat kadang juga lambat. Tangan kanannya, memegang sebilah besi tipis, bergigi-gigi. Dan tangan kiri memegang sebilah kuningan. Lalu ia mempertemukan kedua bilah ditangannya, berkali-kali. Tubuhnya mengikuti gesekan itu, hingga kuningan itu tampak mengkilat. Begitulah seterusnya.

Lelaki disampingku itu bernama Maulidin, ia salah satu pembuat rencong di Baet. Selain ia, ada beberapa pemuda lainnya yang berketerampilan sama. Disana, di gubuk itu ia bersama lima rekan kerjanya saban hari mengikis kuningan-kuninang itu dengan sabar. 

Di gubuk itu, rekannya yang lain, ada yang sedang memanaskan besi. Setelah beberapa saat, hingga besi itu memerah dan berbara. Kemudian, besi yang seakan tak lagi pada wujudnya, di tumbuk-tumbuk dengan besi yang lainnya. Berulang-ulang. Hingga menjadi kerangka pedang.

Maulidin melakukan pekerjaan itu disela-sela kuliahnya yang kosong. Sebelum dan sehabis pulang kuliah, ia menghabiskan waktunya di gubuk yang memang tempat ia mensulap besi-besi itu menjadi sesuatu yang indah dan berharga.