Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Agustus 2012

Doda Idi


Acehpost

Doda idi doda idang
Geulayang blang ka putoh taloe
Beurijang rayek si Banta seudang
Jak tulong prang musoh nanggroe
Jelang siang, Po Minah bersila di lantai papan. Kaki kanannya menjulur ke depan, sedang kirinya dilipat empat puluh lima derajat. Tangan kirinya menopang pelipis sementara siku menekan paha, tangan kanannya menarik tali ayunan. Sambil mengunyah sirih, kepala mengangguk-angguk,  ke kiri dan kanan, sembari mengucapkan syair di atas. Liur merah—bekas kunyahan sirih—melumuri bibirnya. Sinyak Puteh tertidur pulas, seperti seseorang baru saja terlena oleh buluh perindu yang ditiupkan penyair.

Kamis, 26 Januari 2012

Aku Bukan Anak Durhaka


Pagi sekali, matahari masih malu-malu menampakkan dirinya dibalik bukit. Seakan berlomba dengannya, perempuan berkulit sawo matang telah bangkit dan mengambil beberapa buku di atas meja yang berserakan setelah di baca semalam, hari ini ada ulangan mata kuliah kimia di kampus. Dengan cepat pintu di buka ia pun turun melewati satu persatu anak tangga tanpa meneguk segelas air putih pun. Maklum jarak yang di tempuh dengan jalan kaki sekitar satu kilometer dari kampusnya, ia memilih jalan kaki untuk menghemat uang saku. Hidup di kota tak semudah di kampung, memang.
Ia menyelusuri trotoar jalan, berjalan pelan sambil menikmati ukiran pagi begitu indah. Langit nan biru terbentang luas, udara tanpa debu, asap rokok dan kendaraan. Rimbunan kaki bukit yang hijau burung-burung beterbangan dari satu pohon ke pohon yang lainnya. Lukisan Tuhan yang tak mampu ditandingi manusia. Manusia seharusnya bersyukur bukan malah mengotak-ngatiknya. Ah langkah kakinya mengayun cepat meninggalkan pemandangan yang tak sedap itu.

Jumat, 09 September 2011

Sepotong Doa Untuk Tuloet


Oleh : Etty Joseberg

“Bagaimana ini Nak? Emak tidak ada uang.”.
“Tak apa Mak, jika memang tak ada,” suara itu lirih, terbenam dalam bendungan di matanya. “Sudah nasib tak perlu bersedih, lebih baik aku menggembala kerbau saja,” ia berdamai dengan hatinya, dan pergi menuju hamparan sawah yang baru saja panen.
Perempuan berusia senja itu terduduk lesu, matanya menatap nanar sembari mengikuti bayagan Tuloet anaknya pergi menggembala. Ada beban di dadanya. Setelah suaminya pergi melaut sampai kini belum balik. Ntah masih hidup, tapi Emak telah merelakan. Kini hari – hari Emak menghabiskan waktu menggarap sepetak sawah peninggalan suaminya untuk membesarkan Tuloet, putranya yang paling kecil.