Tampilkan postingan dengan label Ruang Jiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ruang Jiwa. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Oktober 2015

Bulan


net
Hati itu seperti bulan. Satu.  Kalau jatuh, ya jatuh.  Kalau hancur ya hancur. Sebab ia tak ganda,  tak terganti. Sayangnya, aku menyadari ini di penghujung malam. Bulan,  mampukah kamu bersinar lagi?  Ketika aku menemukan mu seperti cermin retak
agh, bulan ...




Rabu, 16 September 2015

Di Muka Jendela

Secangkir teh dan sepotong puisi hati, mengawali pagi ku yang sedang ranum-ranumnya. Dua potong tahu goreng, semoga menjadi energi untuk bansa cacing dalam perut.

"Selamat pagi, ingin ku titip kasih pada hati yang ingin ku yakini, tapi hati terlanjur jauh pergi,,,  Selamat pagi, puisi pagi untuk rindu yang telah pergi,,, Meneguk secangkir teh, bersama setetes embun yang hampir mengembang,, benar saja kemudian ia mengembang... Clup...."

Disini aku bisa menikmati pagi, sepertipagi dipegunungan. Mula mula cahaya terbit dari bilik pegunungan ranum. Embun-embun mengembang, terkulum sirna.

Selasa, 15 September 2015

Tentang kita

Dalam sepenggal waktu yang sama, hujan ini membawaku pada kau yang katanya sedan meratapi kedinginan. Hujan ini, katamu, membuat lamunan semakin nikmat. Membuat rindukian membara, seperti api yang tersulut bensin. Kau menghirupkan asap dari sebatang rokok kemudian menghembusnya ke udara,hilang bersama hujan.
Ya, kemudian aku mencoba menciptakan dunia fikirku sendiri. Hujan ini terkadang menjadi apa saja, menundukan hati, menadahkan kepala. Ia menjadi apa saja yang kau inginkan. Tapi jujur saja,  aku tidak pernah meminta rindu ini bersarang, membuat ku sulit bernafas. Apakau pernah menghela rindu?

Rabu, 26 Agustus 2015

Perihal Prahara

Kadang aku mencoba untuk bangkit, mengajak hati untuk kembali tersenyum dan menerima setiap sunggingan senyum. Aku mencoba untuk membuka diri, melepas kalut yang menerpa hati dari sejak dulu. Terkadang aku dengan baiknya, mengatakan aku mencintai merindui dan ingin memiliki dengan sepenuhnya. Membawanya bersama kemana aku pergi, menjadikannya ada dalam setiap sudut hati. Menjadikannya tempat kembali saat hati tak mampu membendungi rasa. Menjadikanya tempat bercurah resah dan tentang kehidupan. Menjadikannya tempat bersandar kala lelah.

Minggu, 24 November 2013

Kerinduan Jiwa


Sejauh mata memandang kearah lautan biru, sebatas itulah fikiranku berkeliaran tak tertuju. Laut lepas nan dalam, dari kejauhan nampak damai nan tenang.  

Tiba-tiba aku merindukan hal seperti itu, tanpa peduli mungkin saja sesuatu yang menghanyutkan bersembunyi dibawah sana. Jiwaku seperti meronta, memanggil kedamaian agar mendekat kedalam peluk. Dekat dan sedekat-dekatnya.

Ah, aku tertunduk, menyembunyikan wajah malu dalam pangkuan. Kepala ku tempelkan pada dua lutut. Untuk mempereratnya, ku rapatkan dengan kedua tanganku. 

Sabtu, 23 November 2013

Dan Aku Tidak Pernah Lelah,,,

Kelanaku, andai saja engkau berikan sedikit kepercayaan atas setiap langkah yang ku ambil, atas setiap senyum yang ku lemparkan, atas setiap sapaan yang ku terima dan setiap yang ku lakukan. Kelanaku, jika boleh hati yang selalu diselimuti gundah ini bertanya, sepenting apa aku ini untukmu? sejauh mana kehadiranku memberimu kenyamanan dan kedamaian untuk jiwamu? adakah sikapku benar telah menyakitimu, merobek kepercayaanmu. Hingga tak tersisa sedikitpun untuk ku lagi.

Sudikiranya dikau melihat lebih dalam ke dalam hatiku, disana, jika diibaratkan hati ku seperti sebuah ruang, maka dindingnya terbuat dari namamu, langitnya dari wajahmu, lantainya dari senyummu. Jika sudah begitu, jika engkau dapat melihatnya, mungkinkah ada yang bisa singgah lagi disana? aku tak pernah lelah untuk menunggu kedewasaan mu, bahwa inilah aku hidup dengan cintamu.

Aku sedih dalam penantianku menunggu pengertianmu. Sungguh. Bertahun kita telah hidup bersama, masih saja kau pertanyakan kesetiaanku. Kadang aku berfikir, apa selama ini kau yang tidak merasakan kehadiranku? kadang aku juga bingung, mencari-cari dimana letak salahku. Aku berdoa, Tuhan,, turunkan satu cermin ajaib untukku agar aku bisa melihat dimana kesalahanku ketika cermin-cermin disini hanya berdiam diri saja saat aku bertanya.

Rabu, 20 November 2013

Satu Hari Sebelum Hari Ini

Namaku Etty Rismanita. Biasa dipanggil Etty. Nama Ayah Zainal Abidin Yusuf dan Rohana Idris, aku terlahir berkat cinta kasih mereka. Di sebuah desa kecil di tepi laut, yang dikenal dengan Padang Meurandeh, Kecamatan Manggeng Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Aku terlahir pada tanggal 02 Mei 1991, tanggal yang mungkin bersejarah bagi Indonesia, dimana pada 02 Mei disebut dengan hari pendidikan nasional. Aku anak ke tiga dari lima bersaudara, dan aku anak perempuan yang tertua.

Sejak kecil aku dibesarkan disana, tiap hari bermain dengan ombak dan kepiting kecil, aku sekolah  SD pada tahun 1999. Kebetulan sekolah itu terletak berseberangan dengan rumah. Jadi, tiap pagi aku menunggu lonceng masuk dari rumah, begitu derit gerbang berbunyi pertanda ditutup aku langsung  loncat.   

Sama seperti halnya dengan anak-anak seusiaku. Kami bermain disekolah dan sehabis sekolah. Dikalangan teman-temanku, aku sering dibilang seperti anak laki-laki.  Satu hal, yang membuat aku malu hingga hari ini, aku tidak bisa memainkan permainan loncat tali atau grop getah. Permainan yang disukai kaum perempuan ini. Aku malah menyukai permainan anak laki-laki seperti bola pimpong dan kelereng.

Sabtu, 20 Juli 2013

Jiwa yang Lain

Ketika keindahan itu mulai merasuki alam hati, memberi warna seperti pelangi di pagi hari. Menggenggam tangan mengajak terbang untuk mewujudkan mimpi, ke atas awan bermain dengan butiran-butiran hujan, jauh sangat jauh merasuki diri dan bahkan aku menemukan diriku dalam bentuk diri yang lain, senyuman yang lebar, dada yang lapang. Barangkali, aku memiliki dua wajah. Oh tak mungkin.

Sejak hari itu, aku, jiwaku, impianku seperti termiliki oleh jiwa yang lain. Jiwa yang sulit untuk ku jelaskan bentuknya, rupanya dan caranya menggenggam mimpiku. Entahlah, saat itu hati seperti deburan ombak yang menubruk karang sedangkan jiwaku melayang-layang ditengah lautan. Kemanapun ku lemparkan pandang, hanya ada mimpi, mimpi dan mimpi baru yang kelak akan terwujud.

Selasa, 16 Juli 2013

Ketika Pembual Jatuh Cinta

Entah bagaimana aku bisa menafsirkan segala rasa yang hadir di palung hati ini, ia bagai sayap yang membuat ku mampu terbang menjelajahi negeri cinta yang dipenuhi dengan kepura-puraan, ia bagai lentera yang menerangi sejagad hitam nan kelam, ia bagai senja yang dipenuhi dengan warna-warni ketenangan dan kelembutan. 

Ia adalah jiwa yang diam, melirik dengan sorot mata yang tajam dengan kelembutan dan keteduhan. Ia adalah kerinduan yang bersemayam dihati nan dalam, kerinduan yang hadir tanpa jarak, tanpa waktu dan tanpa syarat. Ia adalah senapan tanpa peluru megah, emas beracun, kuningan beracun atau besi yang diruncingkan. Ia senapan yang berpeluru kehangatan.


Ia dan ia adalah sejagad rasa yang tak mampu ku tuangkan dalam rasa, tak mampu ku jelaskan pada hati dan ku beri jawab pada tanya. Hanya kemurahan tangan Tuhan yang mampu memberi kejelasan kisah ini akan bermuara kemana.
Ah, akankah engkau percaya kata yang keluar dari pemabok berat? aku seorang pembual.

Selasa, 11 Juni 2013

Surat Terakhir Untuk Kekasihku

net
Salam Rindu ...

Duhai kekasihku, izinkan aku memanggilmu kekasihku, meskipun kita belum berkasih. Aku seperti hanya mengenalmu di setiap jalan hidupku, disetiap pandang terbuang, engkau disana
Saat lelah, engkau datang dengan senyuman sambil membawakan aku teh dalam cangkir keseriusanmu
Saat bahagia, engkau datang membawakan aku sajadah

"Ini harus di syukuri, Sayang"

Minggu, 02 Juni 2013

Ruang Jiwa Putroe Manggeng

* Bulan

Jika ku ibaratkan ada sebuah hati seperti bulan yang sedang bersinar terang dimalam mu, adakah engkau mempercayainya?

Aku tidak bermaksud untuk menjadi bulan di malammu.  Sebab, jika gemerlap dimalammu tak kunjung hilang, bulan hanya akan jadi bayangan semata yang samar-samar hilang cahaya. 


                                                  * Malam *

Biar senandung indah malam yang mengabarkan segala resah ini keharibaan hatimu, yang bahwasanya telah ku temukan perekat kepingan hati dalam harumnya kasihmu.

Senin, 01 April 2013

Di Awal Bulan April

internet
Kelanaku...

Jalanan panjang, berliku, berduri, bebatuan telah terlalui. Sekian waktu telah habis untuk itu, detik berganti menit, jam, hari, minggu, bulan hingga mencapai lusinan bulan yang kemudian menjadi tahun. Cukup lelah sebenarnya, jika boleh aku mengeluh. 


Namun Kelanaku, raut cinta diwajah mu memberiku kekuatan untuk menempuhnya lagi. Benar, Tuhan telah menciptakan aku satu hati, untuk hatimu dan perjalanan ini untuk hati kita.
Kadang dalam hati rapuh, aku ingin berhenti, aku ingin menikmati masa yang tersisa dengan mu. Sekejap saja. Aku takut, aku tak mampu menempuh dan aku hilang di tengah jalan. 

Selasa, 26 Februari 2013

Malam (Hati yang Terluka)


net
Senyap. Bahkan dari sekedar jangkrik kecil yang berteriak disudut keheningan malam. Seperti  malam-malam sebelumnya, mereka berteriak, bernyanyi ria hingga tengah malam. Atau mungkin mereka telah kehilangan pita suaranya? entahlah. Malam ini betul-betul senyap, tanpa ritme lagu dan puisi-puisi cinta untuk penjaga hati yang entah dimana. Apa mungkin pita imajinasi ku juga hilang?


Malam ini aku seakan terkulum dalam lubang raksasa, dindingnya curam, aku tak bisa mendaki. Kedua kaki terjepit, tubuhku terhimpit. Aku sesak. Begitu cepat duka ini menyebar dalam sendi-sendiku, aku telah lumpuh dalam jiwaku sendiri. Aku menunggu lagi untuk waktu yang lama. Oya Tuhan, siapa yang gila?

Selasa, 15 Januari 2013

PENEMBUS BATAS DAN HUJAN



Penembus Batas

Baru saja kita berbaik. Namun aku kembali untuk meninggalkan mu disana. Bukan tak cinta. Bukan. Ada sesuatu yang tak mampu ku jelaskan. Sepatah kata yang sangat ingin untuk kau fahami. Tapi, entahlah aku ragu. Kau akan memahaminya. 

Jelmaan kelanaku. Sangkiranya kau faham, tiada kehidupan yang ku lalui tanpa dirundung bayanganmu. Aku pergi lagi. Tak untuk kebersamaan kita. Tapi untuk dia dan dia.

Tapi maaf, hari itu aku tak sendiri. Aku ditemani oleh beberapa manusia usil, tapi berjiwa tinggi, semangat menjulang seperti Seulawah Agam yang berpucuk pada bahu awan. Sedangkan Seulawah Inoeng, adalah semangat kebersamaan yang terjalin disepanjang jalan. Sekalipun berliku, berlobang dan menanjak. Tapi ia begitu yakin memberi harapan kepada kami, untuk berjuang demi kemanusian di negeri seberang sana, yang baru disepuh bandang. 

Selasa, 04 Desember 2012

Bulan

Poto. Net
Bulan ,,,
Aku hanya bisa diam, saat kau mencoba menghilang
Aku menatapmu dari sini
Dari balik kertas-kertas lusuhan

Bulan..
Sekalipun tanpamu hariku akan malam
Sekalipun senjaku memadam
Harus kau fahamkan, aku tak bisa mengejarmu

Kamis, 15 November 2012

DIA

Dia bukan sahabat, tak mau mendengar curhat seperti layaknya sahabat-sahabat lain yang sedang duduk disuatu tempat, lalu membicarakan tentang pasangan masing-masing. Tapi dia bisa hadir tiap saat. Dia juga bukan pacar, tempat sandaran lara ketika jiwa di jamah gulana. Tak buat jantung berdebar, tapi dia membuatku bahagia. Bahkan terkesan gila. Bayangkan saja, dijalan, dikantin, di ruang kuliah, aku tersenyum-senyum kala ia teringat. Apalagi musuh, tentu saja bukan. Ia tak membenciku disaat aku benar ataupun salah.

Nah, tentang wujudnya aku tak bisa ceritakan. Kumis tipis, hidung tegak, dagu meruncing, atau bahkan lainnya. Musabab aku sendiri, tak mengerti betul tentang fisiknya. Sungguh, aku tak melihat itu. Dia tak banyak meminta, seperti yang lainnya. "O, kamu harus ini, kamu harus itu" tidak pernah, sama sekali tidak pernah. Tapi dia hanya punya satu tawaran yang tak bisa ku tolak, yatiu kebahagian. Sungguh, dia seorang yang pemberi, yang tak butuh pamrih. Bahkan untuk menuntut aku harus setia.

Kalian bisa lihat, raut wajah daan bola mataku, dua garis nampak melengkung bening, di ujungnya ada garis pelangi. Diantara itulah dia berada, disekat-sekat yang hanya dapat dilihat dari dekat saja. Meski telah lama aku bersama dia, tak pernah sekalipun ku dengar bisikannya untuk terjebak ke dalam hal-hal yang dangkal ataupun dalam. Seperti mengajak nikah, atau bermesraan. Hmmmm, sama sepertiku yang tak suka diikat ataupun mengikat, berjanji lalu pergi.

Bagaimana bisa ku jelaskannya, tiada kata yang mampu terucap seakan membisu dalam deru, derunya nafas yang hanya terembus kearahnya. Dia datang untuk orang yang terpilih, seperti aku. Dia datang diam-diam muali dari sudut mata, pelan, seperti angin yang merayap lembut didaunan kala senja hari.

Kamis, 18 Oktober 2012

Kisah Yang Buntu




Dok.Pribadi
Ku pikir, tiada salahnya sesekali mengulik kenangan sebagai tanda aku pernah ada, mungkin ada yang tersisa di balik puing-puing asa yang telah tumbang kemarin lalu. Ku rebahkan raga pada tilam. Aku tak menyesali apa yang telah terjadi, hanya saja sebuah kepergian yang begitu tiba-tiba menghanyutkan jiwa, seperti merebut paksa apa yang telah menyatu dalam jiwaku. Manusia mana yang sanggup hidup tanpa jiwa ? Mungkin aku telah mati, disilam itu.

Kamis, 14 Juni 2012

Kosong


net

Berbicara tentang hati yang kosong. Seperti sebuah bilik tanpa udara. Tiada kehidupan didalamnya bahkan hanya sekedar laba-laba. Ya, kosong. Hanya kosong.

Aku lupa kapan aku bertemu atau memang tidak bertemu sehingga kini begitu kosong. Sangat kosong. Bagaimana bisa kau percaya? ada yang tak ada ketika yang tak ada itu tak ada.  Mungkin itulah kosong.
Kemana ku cari penawarnya, o bahkan mungkin bukan penawarnya tapi isinya. Hati meramu sebuah rasa, begitu sedap dalam hayalan, dalam mimpi. Aku ingin merasa yang nyata. seperti apa itu?.

Senin, 11 Juni 2012

Aduh


Ku takut tak sempat ataupun bisa nanti aku tak ingat. Makanya ku tulis cepat-cepat. Dimalam yang gelap dengan dingin diluar mengendap, tapi aku berkeringat. Ku nyalakan laptop untuk menerangi , hanya untuk aku meratap. Betapa ku berikan luang, pada ruang yang membuat ku pengap.  Ku katakan untuk kedua kalinya aku tersesat dalam senyum yang menyengat, dalam tatap yang sedap. Hatiku pun merapat-rapat.

Selasa, 03 April 2012

Lautan Cinta

Poto Net
Laut yang mengeratkan cinta kita
Kau masih ingat?
Saat kau berjanji, takkan berhenti berenang di laut sebelum kau temukan jawaban dariku
Dan aku datang memberikan jawaban yang kau harapkan begitu juga dengan hatiku.
Kau mengira hari itu adalah hari terakhirmu  sebelum laut dalam menelan tubuhmu yang penuh dengan cinta itu, dan itu adalah hal bodoh yang pernah ku terima dari seorang lelaki.
Tapi aku bahagia, gelombang menjadi salah satu saksi bisu bertemunya dua hati yang penuh dengan perbedaan.