Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Februari 2016

Entahlah ...

Entah ini ingin kau sebut cinta, atau masih kau pertanyakan atau apalah sekiranya tepat, silakan saja. Beberapa kali sudah sumur air mata ini sering terkuras karenanya, aku juga tidak punya nama sekiranya yang cocok untuk ku alamatkan pada hati yang kerap bergetar, pada gaduh yang menggantung dijantung saat wanita cantik muslimah melintas dihadapanmu. Berharap penuh. Aku tak ingin seangkuh itu lagi. Menenggelamkanmu bulat-bulat kedalam bola mata, begitulah caraku menemukan senyumku kembali.

Kamis, 20 Agustus 2015

Oleh Sebab Hati

Lhoknga
Kedua kaki yang berpijak dipasir putih lembab baru ditinggalkan pasang, bagaimana mungkin aku tidak percaya,  ku rasakan lidah-lidah pasang menciumi mata kaki, bagaimana mungkin aku salah mendengar,  deburan ombak yang menggila, aku tidak mungkin lupa. 

Deburan yang pernah menenggelam perahu cadik hati hingga tercabik. Sudahlah,  kedatanganku kali ini bukan untuk itu. Bukan untuk mengorek-ngorek pilu yang tertimbun pasir. Mereka sudah terkubur dalam, dalam sekali. Damai bersama zaman. 

Rabu, 04 Maret 2015

Takdir Tuhan


net
Wahai kau yang bersembunyi di ujung malam, lama kita tak menyapa, apa kabar malammu? seringkah turun hujan? sehatkah ragamu? tenangkah hatimu? bahagiakah hidupmu? 

Mungkin aku terlalu banyak bertanya, akhir-akhir ini aku memang begitu cerewet. Entahlah... tapi disinilah aku bisa bertanya sebanyak-banyaknya, tanpa dimarahi atau tanpa dianggap ocehan belaka yang pada akhirnya sebuah kebosanan.

Aku tidak pedulikan itu, disini ruang jiwaku, aku bebas merayu siapapun yang ku inginkan walaupun tidak dianggap ada. Karena aku bukan yang terbaik dari yang ada. Aku juga tidak meminta untuk dipercayai. Dia terlahir dari sebuah kerinduan, dan kalian tidak bisa menemukan dia di dunia ini, tidak pula di dunia lain, tidak di dunia maya apalagi di dunia nyata. Dia tak ada.

Selasa, 16 Desember 2014

Di balik jeruji besi

net
Entah apa alasanya, ia melakukan kesalahan. Polisi memvonis ia bersalah. Di balik jeruji besi aku menatapnya diam, tubuh yang selama ini ku dekap kini mendekam disana. Aku menemui petugas agar bisa bertemu dengannya. Lalu petugas memberi ku waktu 5 menit, waktu yang sangat singkat untuk bertemu orang yang selama ini ku cintai. 

Kamis, 27 November 2014

Bila Hati Bicara

net

Bola mataku tak pernah jauh dari apa yang ingin ku lihat, ia sesosok yang mengitari ruang fikir, ruang mata dan ruang hati. Sesosok yang mengubah luka kerinduan menjadi setiap nafas yang dipenuhi oleh keinginan dan harapan. Inilah yang kuyakini sebuah cinta, lewat hati yang berbicara.

Tapi nyatanya sesuatu telah merubah segalanya, sesuatu yang belum mau berpihak untuk ku dari kemarin hingga hari ini. Sesosok yang terus ingin ku lihat kian memudar dalam ruang dan waktu, entah apa alasannya. Bila pun begitu, aku tidak akan memaksa hati lagi untuk mengenang jika itu juga sebuah kelukaan. 

Rabu, 12 November 2014

Kebodohanku



Bukan kehilanganmu yang membuatku sakit, tapi kebodohanku atas rasaku yang telah tertaklukkan pada sebuah kesemuan. Kebodohanku atas hatiku yang telah luruh pada satu cinta yang datang tiba-tiba. Kebodohan fikiranku atas harapan dan asa yang ku gantungkan terlalu hebat dalam seucap janji dikala turun hujan.


Kebodohanku yang tak menyadari atas keberadaan diri jauh dari apa yang diinginkan, dan ketaksanggupanku memenuhi keinginan mungkin adalah alasan yang pantas untuk ku pergi.


Kepedihan yang ada atas keputusan yang telah terpilih biarlah menjadi rahasiaku, kekecewaan itu tidak akan pernah berhenti selama tidak ada pengertian atasnya. Aku faham itu. Aku tidak memaksa kamu berjalan diatas takdirku, kamu memiliki tangan sendiri dan disana kamu bebas mengatur takdirmu.

Minggu, 07 April 2013

Musim Gelisah

Dok.Pribadi
Teruntuk Kelana yang selalu terindu. Sesosok jelmaan yang tanpa jemu, menemani dan memberi warna pada lembaran hati yang kian sendu.Tapi kata hanyalah sebatas kata, entah bila masanya semua kata itu terwujud dalam sebuah pembuktian. 

Dan pada kenyataan kini aku memang hidup dengan jelmaan dalam berbagai keadaan aku menerimanya dengan ikhlas. Tapi penantian itu ada jua batas dan tepinya, duhai pemilik jiwa. Seperti dalam hidup ini, kita menanti sekali untuk mati, juga akan menanti sekali untuk cinta.

Entahlah Kelana, biarlah kata itu jadi kata untuk waktu yang tak terhingga. Sebab aku tak bisa dan tak mudah jua dengan yang lain. Tiada yang lebih darimu, begitu pula tak ada yang kurang dari yang lain. Hanya hati yang tau inginnya. 

Kelana, sudah sekian waktu berlalu penuh dengan dentingan rindu dari ranah pelukanku. Pada detik ini, entah angin mana yang membawakan satu tanya dalam hati, satu rindu yang sedikit menggoresnya. Entahlah, pada siapa jua akan ku tuntut, jika semua curiga dan tanya betul adanya? aku terasing dari sisimu, begitu juga sebaliknya.

Senin, 07 Januari 2013

Saat di Depan Tivi



Etty N Nova

MALAM ini mungkin sebagian mereka telah tertidur, merangkai mimpi-mimpinya dengan ranum. Setelah diguyur hujan sehari penuh tadi siang, menciptakan nuansa dingin bukan kepalang. Tentu ini bagus untuk bermimpi-mimpi. Namun aku menyempatkan diri duduk di depan tivi, selain dari kebiasaanku yang tak bisa cepat lelap, juga bersebab besoknya minggu. Aku tak perlu cepat bangun berkejaran dengan matahari, selain libur dari kampus juga libur kerja. Segera aku mengambil remot dan memilih chanel kesekuaan ku. 
Diluar sana, helaan-helaan angin mengajak daun bergoyang kian mengeluarkan suara. Sedikit riuh  namun lima tusuk sate dan secangkir teh setengah dingin menjadikan aku melupakan suara-suara kecil itu. Tiba-tiba handphone ku berbunyi, hanya nada sms. Aku menahan diri untuk tak melihat, membaca. Aku takut. Takut dari bos dikantor, sebab aku tak datang rapat.  Kata-kata itu pasti mengiris-ngiris lidahku. Aku bergetar. Layaknya hape. Ah sebaiknya tak ku baca saja. Mungkin sampai besok pagi. Sebaiknya ku matikan saja hape itu, biar tak disusul dengan nada panggilan. 

Minggu, 18 September 2011

Rumah Minang Jadi Bukti


Oleh : Etty Rismanita

Rumah Minang
Pagi itu, matahari berkabut tipis butiran hujan masih terlihat menggantung di rerumputan, setelah semalam mengguyur deras. Aku masih berlama-lama di tempat tidur, cuaca begini aku tidak akan pergi kemana-mana, fikirku. Tiba-tiba hanphone ku berbunyi, sms dari seorang teman “ Pakai baju PDL ya “. Aku kaget, lekas ku buka SimCard ku yang nonaktif dari semalam. Disana ada pemberitahuan “ Besok paling lambat pukul 8 : 30 WIB” bandul jam di hadapan ku kini ada di angka 8: 13 WIB.

Minggu, 11 September 2011

Muram Durja si Gadis Desa


Oleh : Etty Rismanita
                           
Aku bukan gadis hebat, cantik, kaya dan lain sebagainya. Aku hanya perempuan desa, tinggal di gubuk tua dipinggir rimba, bermain dengan ujung lidah gelombang tak berpagar. Dengan penuh keakuan ku, aku beruntung memilikimu mencintaimu adalah sebuah anugerah dalam hidupku.
Diawal cerita romantika ini di mulai telah terkata “ Aku bukan gadis kota”, “cintai aku dengan cara sederhana dan biasa”,  itu akan lebih berarti untuk ku.

Jumat, 29 April 2011

Luka Ku...

Aku bersila di teras rumah sambil menikmati ukiran senja di kaki langit yang kian memerah. Sesekali semilir angin menampar pipiku, mengacak lamunan yang sedang ku rangkai tanpa sengaja. Ada perasaan tak enak meraba hati di sore hamper magrip itu, dengan berat hati ku raih handphone yang sejak tadi telah berdering di kantong celana ku, ternyata satu pesan “my heart” tertera di layar, bernada

“Aku kuliah di blang Pidie” 

Aku lunglai, otot ku berpisah satu sama lain, butiran beningpun berkunang di pelupuk mata, pelan mengaliri celah pipi. Tak pernah terlintas seujung benang pun kita akan berpisah dengan waktu yang lama. Inikah takdirku

Kamis, 28 April 2011

Mimpi ku

Oleh Etty Rismanita Joseberg

Terdampar di sebuah beranda rumah aku bermimpi, didepan ada dua lorong, yang satu gelap gulita dan satunya lagi terang. Aku memutuskan masuk ke dalam jalan terang itu, kemilau matahari begitu beringasnya. Kelihatan tanah di sekitarnya kering kerontang.

Kamis, 21 April 2011

Perempuan beruang kosong

Oleh : Etty Rismanita

Mungkin di mata kalian aku adalah wanita yang paling bahagia, sekilas sempurna. Dapat terlihat dari mata ku. Tiap hari aku tertawa lepas dengan teman-teman di kantin, dalam ruang kelas, di parkiran saat menunggu dosen mengajar bahkan di sekret lensa. Mendengar keluh kesah kawan, nge gosip. Tersenyum selalu.

Namun cobalah terowong dengan mata hati kalian sejenak, sungguh akan kalian temukan rona mataku yang kian redup. Dan bilik hatiku yang berdarah karena luka. Bathin ku tersiksa ! menjerit, di saat aku terpaksa menguak rahang demi menghasilkan sebuah senyum manis yang bersahaja untuk ku lemparkan di hadapan wajah ceria sahabat-sahabat ku.