Oleh : Etty Joseberg
“Bagaimana ini Nak? Emak tidak ada uang.”.
“Tak apa Mak, jika memang tak ada,” suara itu lirih, terbenam dalam bendungan di matanya. “Sudah nasib tak perlu bersedih, lebih baik aku menggembala kerbau saja,” ia berdamai dengan hatinya, dan pergi menuju hamparan sawah yang baru saja panen.
Perempuan berusia senja itu terduduk lesu, matanya menatap nanar sembari mengikuti bayagan Tuloet anaknya pergi menggembala. Ada beban di dadanya. Setelah suaminya pergi melaut sampai kini belum balik. Ntah masih hidup, tapi Emak telah merelakan. Kini hari – hari Emak menghabiskan waktu menggarap sepetak sawah peninggalan suaminya untuk membesarkan Tuloet, putranya yang paling kecil.
