![]() |
| net |
Kini aku berusia enam tahun,
tepat dua bulan yang lalu dimana hari pertama aku melihat cinta, kasih sayang,
semangat dan kebersamaan dari kelopak mata kecilku. Gejolak kelahiran itu
terlahir dari jiwa-jiwa yang menolak tertindas, jiwa-jiwa yang merindukan
keteduhan dan kedamaian. Lebih tepatnya aku dilahirkan saat-saat kehidupan
sedang dalam musim kematian, gersang dan kemarau yang berkepanjangan. Dimana
musim, silih berganti dalam hitungan kedipan mata. Dimana kehidupan malam berjalan
tanpa sinar bulan dan kehidupan siangnya berjalan dalam kebutaan. Dimana
senyuman adalah gua kegelapan yang dibungkus dengan indah dan tangisan adalah
himne-himne perjuangan yang layak dialunkan diseluruh taman ini.
Sementara, disudut sana para
musafir kehidupan terbungkuk-bungkuk, tertatih, menyampir beban diluar
kemampuan bathin mereka. Dalam negeri taman ini, pada hari itu hanya diisi oleh
kerangka-kerangka yang hidup, berjalan dengan dahaga, dengan panas yang
membakar ubun-ubun. Mereka duduk diatas aturan-aturan yang mencekam, mencekik
dan membunuh secara perlahan. Gejolak inilah dasar kelahiranku di tanah ini,
oleh jiwa-jiwa yang tak menutup mata, jiwa-jiwa yang bersuara lembut.

