Yang ku dengar
hanya suara yang meraba dalam hening, menghapus duka yang terlahir dari
genangan luka. Sekonyong-konyongnya, air mata mengalir dan kau orang asing bak
muara. Diam dan menerima tempahan duka yang seolah tak mau habis.
Setelah semuanya
terlepas, aku baru sadar. Dan kita mengawali perkenalannya dari nol. Ku tahu
tentangmu setidaknya dua hal, negeri asalmu dan nama. Itu saja. Dulu aku sempat
menyesal kenapa tidak ku tanyakan semua tentangmu. Aku bodoh, cela ku sambil
menokok kepala sendiri.
Malam itu cukup.
